Jumat, 11 Mei 2012

LINGKAR BERITA UNJUK RASA


Oleh Tri Marhaeni PA
Pemberitaan aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai daerah oleh media-media elektronik, mengetengahkan dua keping “wajah”. Pertama; sikap represif aparat terhadap mahasiswa yang cenderung mirip dengan “perburuan”. Kedua; aksi pengunjuk rasa yang menyampaikan tuntutannya diikuti oleh bias semangat berupa sikap-sikap yang berkecenderungan anarkis, terutama menghadapi polisi.
Liputan aksi demonstrasi itu memantulkan realitas dunia media, betapa pada era pemberitaan yang serbatransparan ini tak ada lagi sekat konsumsi berita oleh publik. Seperti akibat umum yang timbul dari kapitalisme industri apa pun, pengaruh pemberitaan media juga membawa dampak ibarat pedang bermata dua.
Keterbukaan pemberitaan itu pula misalnya, membawa berbagai dampak, baik positif maupun negatif. Apa pun itu, pemberitaan media merupakan senjata ampuh untuk membentuk wacana publik. Salah satu yang saya soroti lewat tulisan ini adalah peliputan tentang merebaknya aksi demo mahasiswa.
Bumerang Pemberitaan
Media, baik cetak maupun elektronik berusaha keras menyajikan keseimbangan peliputan, berupa sikap tidak memihak, baik kepada pendemo maupun polisi. Masyarakat bisa merasakan, pemberitaan sudah demikian terbuka dan objektif. Klarifikasi dari kedua belah pihak juga diberitakan secara imbang.
Satu sisi yang patut kita telaah, ketika suatu saat berita menampilkan kekerasan yang dilakukan oleh aparat dalam menangani aksi demo mahasiswa di suatu tempat atau kampus, berita tersebut bisa memicu ’’kebencian terhadap aparat”, kemudian menyulut lagi “rasa dendam” yang menjalari mahasiswa untuk menjadi hero bagi teman-temannya yang menjadi objek kekerasan aparat. Akibatnya, tentulah ada sebagian mahasiswa yang membawa rasa dendam di lapangan ketika mereka berunjuk rasa.
Terbayang tayangan kekerasan aparat terhadap teman sesama mahasiswa, mereka berdemo tidak saja dengan spirit memperjuangkan suara rakyat, tetapi juga semangat mengungkapkan “rasa dendamnya” kepada aparat sebagai bentuk solidaritas antarmahasiswa. Yang terjadi kemudian adalah sikap anarkis dan menyerang aparat polisi, bahkan menyakiti dengan sengaja. Bahkan ketika polisi tidak melakukan apa pun alias hanya berdiam diri, ketika mahasiswa tersebut mencoba menendang seorang polisi (seperti tayangan di beberapa stasiun televisi).
Sebaliknya, adegan seorang pendemo yang melakukan kekerasan kepada aparat dan ditayangkan berulang-ulang secara terang, tentu juga memicu “rasa dendam” para anggota polisi dan keluarga besar polisi untuk “tidak terima” dan menuding bahwa kebrutalan itu layak dihadapi dengan tindakan represif. Implikasinya, ketika menangani demo, yang terbayang adalah adengan rekan polisinya yang teraniaya.
Lingkaran Tak Berujung
Kondisi semacam itu ibarat lingkaran yang tak berujung: saling terbakar rasa, saling tersinggung, dan saling ingin menunjukkan diri sebagai pahlawan pembela bagi sejawatnya. Saya menyadari, teknik peliputan media dengan memberi ruang yang sama sebenarnya diniatkan agar berlangsung sebuah penyiaran yang imbang sehingga kedua belah pihak tidak saling menyalahkan.
Namun proses itu ternyata bisa menjadi bumerang. Dari sisi ini, media seolah-olah ikut memicu berjuta rasa ketika menampilkan berbagai adegan kekerasan dalam aksi demo secara bergantian. Seakan-akan selalu ada amunisi baru untuk menambah dan “menyuburkan rasa” (benci, dendam, tidak terima, jengkel, dan sebagainya) setiap melihat tayangan kekerasan yang secara bergantian dilakukan oleh pengunjuk rasa ataupun polisi.
Dari perspektif wacana ini, media pun sesungguhnya berada dalam posisi serbasalah dan dalam kondisi yang —dalam teori Victor Turner— liminal juga. Yakni kondisi ketika memberitakan secara terbuka salah, tidak secara apa adanya juga salah.
Oleh karena itu, yang bisa dilakukan adalah membangun kesadaran kolektif: apa pun profesi dan tugas kita, semuanya adalah manusia biasa yang punya rasa, kekurangan, dan kelebihan, dengan harapan marilah “mengelola rasa” untuk semua hal yang akan kita lakukan.
Dari sisi teori dan perkembangan perilaku praktik media, kembali menoleh ke spirit “jurnalisme damai” merupakan pilihan bijak. Di tengah beragam realitas publik yang akan diangkat sebagai wacana media, para jurnalis berusaha mengeksplorasi untuk menemukan semaksimal mungkin kebaikan, dan meminimalisasi kerugian yang mungkin timbul.
Sikap demikian diharapkan bisa meminimalkan keliminalan kita semua, agar siap masuk dalam struktur baru yang sengaja diciptakan agar kita tidak terkurung dalam kondisi masyarakat antistruktur secara terus-menerus. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, siapa lagi yang akan memulai? (Sumber: Suara Merdeka).

Tidak ada komentar: